Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2011

Lima Belas Menit

            “Permisi, Pak. Maaf telat.”
            “Kamu lagi! Ini sudah jam berapa?”
            “Maaf, Pak. Tadi habis ngantar sepupu ke bandara.”
            “Banyak alasan! Keluar!”
            
Beginilah tradisi baruku di hari Selasa. Aku memang menunggu pagi, karena saat itu Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup. Tapi hari ini aku merasa pagi tidak lagi jadi sahabat. Terlalu berat jam tujuh menuntutku sudah terjaga, karena aku harus masuk tidak lebih dari lima belas menit. Jika lewat, ya seperti tadi. Aku harus keluar dan menunggu jam berikutnya. Padahal aku bayar penuh uang kuliah untuk semua waktu.

Selasa, 03 Mei 2011

Diamlah!

"Aku benci ketika harus bercerita dan mereka berkomentar seakan mereka tahu segalanya. Belum lagi teori omong kosong yang tak masuk akal membuatku kian muak untuk terbuka. Apa sih yang mereka cari? Bukankah status fb temannya sudah habis dia buat mati gaya dengan segala komentar gak penting. Masih kurangkah? Atau dia perlu banyak kata untuk mendiskripsikan dirinya? Atau ini adalah cara untuk selalu dikenang?"

Teman menjadi barang langka bagi Mika. Dia lebih suka berdiam dan menafsirkan segalanya dalam pikiran. Tak ada yang tahu apa isi kepala anak aneh itu, begitu teman sekalas memanggilnya.

Kamis, 12 Agustus 2010

Siapa yang Menang

Setapak jalan mulai sepi. Beberapa kulihat para lelaki berkumpul di persimpangan gang, di sebuah bangunan ala kadarnya. Tanpa pintu, tanpa jendela. Ya, warga bilang itu 'Pos Ronda'. Pos yang selalu ramai dijaga bapak kepala rumah tangga. Mereka tampak senang. Tawa khas pria dewasa cukup menggelegar di antara tiang-tiang penyangga. Sambil menepuk-nepuk kartu, lalu diedar sesuai arah jarum jam, dan dibukanya perlahan. Satu demi satu kertas persegi itu diatur, besar kecil, merah hitam, tunggal jamak. Lalu para mata itu mulai melirik kanan dan kiri, seperti penari Bali. Namun tak seelok yang aslinya. Mereka mencoba mencuri ekspresi lawan, membacanya, kemudian menebak langkah yang kan diambil. Sebagian tertangkap sedang meringis dan sebagian lagi mengerutkan kening.

"Hmmmm, aku siap!"
Begitulah tantang jepit kuning pada pemain yang mulai panik dengan strateginya. Rupanya jepitan itu sudah tak sabar menggoda pria-pria 'tak beristri' ini.
"Ya, kapan lagi bisa mencubit dagu pria tampan itu?! Apalagi jenggot kecil yang baru saja dicukurnya. Pasti geli!"
Si merah pun kian menggoda di tengah malam yang sengit. Lalu gemuruh jepit lain pun saling saut-menyaut.

Bapak-bapak itu masih tidak peduli. Mereka terlalu fokus dengan ratu cantik dan badut istana. Raja-raja mulai tumbang seiring daun-daun berguguran. Banyak hati yang terluka karena kekuasaan, karena keacuhan nikmat sesaat. Tidakkah mereka lihat itu? Ya, permainan ini memang mengasyikan dan seperti itulah ritualnya. Tidak hanya sekali, kemudian diulang dan diulang.


(Boyolali, 12 Agustus 2010)

Sabtu, 31 Juli 2010

Malam Ini Gerr!

Pukul 00.00. Malam ini aku terjaga. Lagi. Seperti biasa. Sepi. Jendela masih kelam, belum berbayang. Gelap. Hanya kipas yang masih memutar lagu yang sama, mengirim dingin yang sengaja menggelitik tubuhku, membuat ginjal berkerja lebih cepat dan kandung kemih pun siap untuk berproduksi. Seperti penari ronggeng yang mencari pelanggan, aku keluar dengan bokong yang sedikit ku jetitkan agar air bisa lebih sabar untuk mengalir. Ya, cukup berhasil. Setengah berlari ku tuju remang jingga di sana. Tapak kaki menelanjangi kotak-kotak es yang memberi asupan gizi lebih banyak pada kandung kemih. Sabar, sebentar lagi sampai.

Ku hampiri dulu gayung hijau yang terhimpit di antara peralatan mandi dan lainnya. Hati-hati. Jangan sampai terjatuh. Aku tak mau mereka terbangun. Terlalu ricuh untuk dini hari. Meskipun mereka berpikir itu tikus atau kucing, tapi aku bukan binatang! Ya, walaupun akan ada bunyi yang sama.
“Tok.”
Sedikit bersinggungan dengan benda serupa. Tak apa. Biasa, yang penting gayung berhasil keluar dari kotak-kotak kayu penyimpanan.

Pelan, sangat pelan. Ruang 2x2 yang super adem ini membuat bokong harus ku jentitkan lebih tinggi lagi, mengunci air lebih kuat. Lantainya yang basah membawa getar sampai setengah badan. Kunci pun sedikit kendor. Maap, air itu sedikit tidak sabar. Dia segera ingin pulang ke rumah. Lubang telah memanggilnya. Eits, tahan dulu! Kanan kiri, kanan kiri. Likukan bokong berhasil mencuri perhatian, membuat air bingung untuk pulang. Ya, aku harus meronggeng. Tapi kali ini aku tidak disawer. Perhatiannya sudah cukup bagiku.
“Permisi.”
Legging lewat sebentar. Dia ingin melihat tari dari atas paku yang tertancap. Lalu gadis bunga yang habis bermain gerimis ikut menyaksikan dari atas. Beda dua paku. Pertunjukan selesai! Dia pulang. Raut wajahnya tampak senang. Gemericik lompatan yang riang di atas porselin. Usai mereka pergi, aku iba. Ku kirim teman bermain untuknya. Tidak perlu ditakar, satu gayung aku berikan. Bahkan lebih. Aku memang majikan yang baik.

Sekarang giliran rumahku yang menjadi pesing. Rumput-rumput tampak layu dan dinding terlihat kusam. Ku raih sabun dalam gayung hijau yang telah kuselamatkan tadi. Remas dan sesekali memutarnya. Harum. Aku berharap harum ini pindah ke rumahku. Bagaimana pun juga, aku berharap rumah ini akan menjadi keluarga yang bahagia. Aku ingin orang yang berada di dalamnya merasa nyaman. Suamiku tidak bosan untuk selalu pulang dan dari sini pula lahir keturunan yang baik. Amin. Aku rasa sudah cukup harum. Bilas. Lap agar tidak lembab, seperti ruangan ini.

Ku kenakan celana untuk melindunginya. Dua potong, dalam dan luar. Apa? Bau? Aku memang memakai celana, tapi bukan yang tadi. Mereka sudah terkontaminasi. Aku tidak mau keharuman yang baru saja melekat, hilang dicuri gadis berbunga yang tidak sempat meneduh saat gerimis datang. Aku juga tidak mau rumahku tak laku dijual hanya karena, bau! Tapi bukan berarti aku akan menjual rumah ini dengan obralan! Untuk hal ini, aku perlu sedikit perfeksionis. Rumah ini akan aku jual pada lelaki yang aku cintai. Tidak ada tawar-menawar! Begitulah. Aku kenakan celana. Nyaman.


(Jogja, 31 Juli 2010)