Tampilkan postingan dengan label petualang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petualang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Bukan Miseseres!

Sebenarnya cerita ini udah lama banget! Tapi belum tak sampaikan, because of something else. Sebenarnya inipun aku lagi pingin nulis karena udah lama gak nulis. Lebih tepatnya jarang merangkai cerita lagi. Yaaa, seluruh imajinasi sudah dipaksakan buat nulis berbagai makalah dan paper, and so mumeeeeet! Jadi begini kisahnya...

Minggu, 22 April 2012

Segarnya Jalan di Pagi Hari

Pada suatu pagi yang cerah, dimana orang-orang masih bergemul dengan selimutnya yang hangat, Ajeng seorang gadis manis nan sederhana terbangun tanpa ciuman (yaiyalah, emang putri salju??? hell..ooooo....). Pagi itu sangat dingin menusuk hingga ke perut yang paling dasar dan lari ke bawah. Hal ini menyebabkab Ajeng mules tak tertahankan dan sedikit mengeluarkan tai yang pada akhirnya tergempet di antara pantat (NB: jangan baca sambil makan!). Seketika itu pun dia lekas bergegas mengenakan rok merah corak batik bali, jaket, dan jilbab pergi ke masjid kampus UNY. Masjid??? For what??

Sabtu, 19 Maret 2011

Mampir Dulu Mas

KRITERIA: 17+ 
LOKASI: Sarkem

PROLOG
Ketika hangat menjadi komersil. Ketika malam menjadi peluang. Inilah kisah di antara remang penasaran

Kamis, 17 Maret 2011

Brino (dudu) Lanang

Hari ini salah satu teman kami, sebut saja dia Montana, sedang berduka. Eyang tercintanya baru saja berpamitan pergi menghadap Tuhan (pantas saja perawakan besarnya tidak tampak hari itu di Hima). Sebagai kawan yang penuh cinta dan kasih (cukup diragukan), saya, Kuncoro, Sasy, Yuni, dan Brino pun pergi berkunjung ke rumahnya.

Senin, 07 Februari 2011

Dia Bernama Utari

Ternyata begini ya rasanya jadi guru. Sungguh melelahkan dan perlu hati seluas stadion Gelora Bung Karno. Sembari jalan-jalan di Desa Celuk, aku menemukan kumpulan anak kecil sedang belajar di pendopo. Kaki ini pun tertarik untuk mendekatinya. Ternyata kumpulan bocah lucu itu adalah PAUD. Mereka sedang belajar menulis angka 4 dan 5.

Minggu, 06 Februari 2011

Tak Ada Gayung, Tong Sampah pun Jadi

Setelah hampir membunuh anak-anak dengan gas beracun (Hahaha, saya bangga sekali bisa buat genk populer sesak napas dengan kentut naujubile!), pagi-pagi bokong ini mendapat sinyal untuk berproduksi. Ya tepat sekali seperti yang anda pikirkan, bubur coklat ih wow! Namun sayang WC kamar kami tidak mendukung, air closetnya mati. So, mana mungkin boker di jamban itu. Bakal ngapung seumur hidup tuh tai!. Tapi bagaimana pun juga, isi perut ini harus keluar.

Gagap Inggris

Tujuan berikut adalah pertunjukan Kecak, sebuah tari yang mengkronologikan cerita Rama dan Sita. Wow, aku suka tari! Apalagi tari Bali dengan mata beloknya yang lihai melirik. Cantik! Sebelumnya aku sedikit belajar tari Bali dengan anak kecil di Desa Panglipuran. Padahal baru gerakan awal dan itupun hanya secuil goyang, tapi capeknya benar oke banget! Ngos-ngosan!

Sabtu, 05 Februari 2011

Gas Beracun

Sampai juga di penginapan. Sungguh sangat kangen merebahkan badan di atas ranjang. Aku mendapatkan teman sekamar dengan Dian, Brino, Eni Excelent, dan Ninda. Yaa, agak sedikit aneh memang karena teman-teman sekamar bukan pilihan kami melainkan panitia. Tak apa, toh kita juga tetap merasa nyaman. Panitia pun menjelaskan bahwa susunan orang tersebut hanya formalitas saja, diperkenankan bagi yang merasa kesempitan atau tidak cocok untuk pindah kamar, asalkan masih satu spesies atau sejenis kelamin.

Kami berlima pun menyulap kamar yang sempit agar dapat menampung lima bagong gede (kecuali Ninda). Dua kasur yang terpisah, dipepet menjadi satu dan koper2 diatur rapi. Dalam hitungan menit selesai sudah desain interior baru kamar 207. Anak-anak dari kamar lain, khususnya genk populer sering bertengger di kamar kami, dan di sinilah tragedi mematikan terjadi.

Jet Coaster Ala Bebek 4 Tak

Hari pertama menapakkan kaki di Pulau Dewata. Bali mameeen!!! Haha, serasa turis asing gitu. Kunjungan ke Bali ini merupakan program kuliah kerja lapangan (KKL), dan objek pertama kita adalah Desa Pegayaman yang merupakan desa Islam di Bali. Kurang lebih satu jam dari penyeberangan Gilimanuk menuju desa tersebut, dan sampailah juga di objek yang pertama.

Eh ternyata ini baru pintu gerbangnya saja, dan untuk mencapai tempat penyambutan harus menggunakan ojek karena jarak tempuh sekitar 5km. Untuk menghemat biaya, satu ojek ditumpangi dua orang, dan aku duet dengan Yuni. Bisa banyangin kan bagaimana sempitnya jok dan tersiksanya ban motor ditimpa tiga bokong super bohai?!