Sabtu, 20 November 2010

Wedang Jahe Ala Kos


Bahan yang disiapkan
  • Jahe 2 bonggol
  • Air 1 liter
  • Gula merah 1/4
Isi
  • Agar-agar
  • Roti tawar 3 lembar
Cara membuat
  1. Jahe digeprek (dipukul-pukul) sampai sedikit hancur. Hal ini memudahkan keluarnya sari-sari jahe. Ingat, jangan sampai halus!
  2. Rebus jahe yang sudah hancur ke dalam air 1 liter
  3. Campur gula merah ke dalam rebusan jahe
  4. Aduk air sampai mendidih dan bahan telah tercampur semua
  5. Potong dadu agar-agar dan roti tawar
  6. Tuangkan air jahe ke dalam mangkok
  7. Taburi agar-agar dan roti tawar yang telah dipotong dadu
  8. Bisa ditambahkan susu kental manis

Bagus buat pelega tenggorokan (yaaa sebagai pengganti obat batuk). Cocok untuk malam atau musim hujan.
Selamat mencoba, selamat menikmati...

Jumat, 19 November 2010

Relawan pun Rindu Kampung Halaman

Sore ini di salah satu daerah wisata kota Jogja. sebuah objek wisata yang mengingatkan kita akan sejarah kota pelajar ini. Ya, dialah Monumen Jogja Kembali atau akrab disebut Monjali. Sejak Merapi meletus pada tanggal 4 November 2010, Monjali berubah fungsi untuk sementara menjadi dapur umum TNI. Di mana biasanya tempat ini penuh dengan para wisatawan dan pedagang, kini barat Monjali dipenuhi para relawan dan bahan makanan. Tak ada lagi mobil atau motor yang parkir rapi di sana. Semua diganti dengan truk-truk milik angkatan bersenjata. Bahkan bukan lagi ibu-ibu rumah tangga saja yang ikut mengupas sayur, meracik bumbu, atau membungkus nasi melainkan pria-pria bertubuh padat ini pun turut mencampurinya.

Rabu, 17 November 2010

Materai 6000

Tiba-tiba saja malam ini mengantarku untuk berpikir sejenak, tentang hukum dan salah satu atributnya. Ya, dialah materai 6000. Secuil kertas yang seringkali merekat pada lembar pengesahan. Benda sebesar perangko ini sungguh sakti mandraguna! Bayangkan, jika suatu surat bertempelkan materai 6000, maka surat tersebut dinyatakan sah dalam hukum! Kalau dipikir-pikir, materai 6000 ini dijual dengan harga Rp 7.000. Cukup murah, bahkan sangat murah untuk sebuah hukum.

Selasa, 02 November 2010

Bukan Sulap, Mungkin Sihir

Anda tentu pernah dengar tentang seorang bocah yang mendapatkan anak petir (baca: batu) dan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit apapun. Ya, dialah Ponari. Semenjak kejadian aneh yang menimpanya, dia dikenal sebagai dukun cilik sakti yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit hanya dengan sebuah batu ajaib. Ini bukanlah kisah pertama tentang kekuatan supranatural yang dimiliki oleh sebagian orang saja. Kabar terbaru terkait aktivitas Gunung Merapi juga membawa cerita tersendiri tentang sebuah mitos. Warga Desa Tlogolele, Selo yang bermukim di kawasan lereng Merapi lebih percaya dengan wangsit Mbah Petruk sebagai penjaga Merapi daripada prediksi seismograf, sebuah alat pengukur gempa yang digunakan oleh Pemerintah.[1] Meski pemerintah telah mengeluarkan status pada Merapi menjadi siaga dan aktivitas Merapi yang meningkat, hal tersebut tidak merubah keyakinan warga di sekitar lereng Merapi. Seperti yang saya kutip pada Koran Solopos edisi Senin, 18 Oktober 2010, halaman 1, “Salah seorang warga Stabelan, Parto Pawiro, 65, menuturkan warga Stabelan akan mengungsi jika sudah ada ‘perintah’ dari Mbah Petruk, sesepuh yang diyakini warga sebagai penunggu Merapi.”[2] 

Jumat, 29 Oktober 2010

Karena Kamu, Aku Jatuh Cinta

Inilah kisah yang kesekian kalinya tertulis. Suatu kisah yang tentu familiar untuk kalian dengar bahkan kalian alami. Dan bisa jadi kalian pun muak dengan ini. Ya, dialah cinta. Satu kata beribu makna, satu ucap beribu rasa, satu hal beribu jiwa. Klasik bukan? Hah, cinta? Tapi aku tak peduli dengan itu. Toh aku dan kamu sama. Kita manusia yang ditakdirkan untuk jatuh cinta.

Ini bukan pertama kalinya aku jatuh cinta. Jauh sebelum ini, bahkan terlalu dini untuk mengenal cinta, aku telah jatuh cinta. Dengan seorang lelaki yang biasa-biasa saja, tapi menurutku dia istimewa. Itulah salah satu keajaiban cinta, membuat kita menjadi istimewa. Tak banyak yang aku dapat dari dia, karena menyentuhnya pun aku tak sanggup. Entah dia yang terlalu jauh, atau aku yang terlalu takut. Tapi setidaknya aku menemukan sebuah keikhlasan dalam mencintainya. Dan cerita tentangnya telah kuberi ruang tersendiri, di antara orang-orang yang silih berganti.

Cukup lama, sekitar enam tahun, aku temukan seorang arsitek baru untuk membangun ruang lain dalam hatiku. Dengan design yang baru, bata yang baru, perabotan baru, alamat baru, warna yang baru, dan cinta yang baru, Semua serba baru karena kami mencoba membangun sebuah rumah dari dasar tanah, yang semakin hari semakin tinggi. Perpaduan gaya arsitektur yang berbeda, membuat kami semakin kaya dalam berbagi. Banyak hal yang dia beri dalam ruang itu. Termasuk memasang jendela di setiap sudut tembok, agar aku bisa melihatnya dengan sisi yang berbeda, dengan sisi yang mungkin tak banyak orang tahu. Bahkan dia membuat sebuah labirin yang cukup rumit, yang sering membuat aku lelah untuk menemukan jalan keluar.

Tapi bangunan itu belum selesai. Masih rapuh, masih banyak yang harus dibenahi. Itulah yang menjadi penantianku kini. Penantian yang belum menemukan ujungnya. Aku pun masih menunggu arsitek itu kembali, setidaknya sampai dia selesai dengan tugasnya yang lain. Atau mungkin bangunan ini terlalu megah untuk berdiri, dan kami pun tak sanggup menyelesaikannya.

Setidaknya bangunan sederhana ini sudah cukup membuat aku nyaman, membuat aku menjadi seorang perempuan seutuhnya. Aku pun tak perlu lagi pergi keliling dunia mencari eiffel, taj mahal, piramid, prambanan, atupun batu yang lainnya, karena kamu adalah dunia itu. Cukup dengan mengenalmu lebih dalam, aku bisa tahu tentang apa itu hidup dan apa itu cinta.

Dan ketika hari itu tiba, ketika kau harus pergi dengan alasan yang tak mungkin aku elak, aku ingin sendiri menikmati sisa bata yang tersusun ini. Jangan juga kau coba hapus air mataku. Biarkan aku menangis, karena ini cara yang aku tahu untuk melepasmu...

(Jogja, 29 Oktober 2010)

Sabtu, 23 Oktober 2010

Rumah Pesakitan

Ada jeritan manusia yang siup-siup terdengar di antara dengkuran para pengunjung. Jerit yang merintih sakit dan nyilu. Jerit rontak antara jiwa dan tubuh. Manusia yang kini sadar betapa indahnya berlari, betapa indahnya bumi, dan betapa indahnya keluarga kami, kini harus tidur bersama selang yang menjuntai dan menusuk kulitnya, menghirup oksigen (yang terbatas) dan tak dibagi. Batuk pun semakin mendeguk dikala malam tak lagi riuh. berteman panas yang menggigilkan jemari dan kulit ari. Dia terbaring tak berdaya, bahkan kotoran pun tak bisa dibuangnya sendiri.

Terdengar ironiskah? Terlalu memilukankah? Kurasa tidak. Cukup wajar diusianya yang tak lagi muda. Hampir setiap lelaki sepertinya mengalami hal serupa. Bahkan di ruangan itu, dia tak sendiri. Seorang lelaki sebayanya pun sering meronta lebih keras, lebih riuh, dan lebih mengerikan. Entah sehebat apa rasa sakit itu. Tapi yang jelas, dia sudah lebih tenang sekarang, bahkan lebih tenang dibanding yang lain. Dia pergi lebih dulu.

Aku masih duduk menikmati jerit yang kadang membuatku pilu. Tapi itulah cara mereka menyampaikan kata yang tak sanggup diucapkan, dan aku mengerti. Kadang jerit itu seperti menggambarkan simbol yang harus kubaca dengan pelan. Setelah paham, kulakukan apa yang dimaksud. Mengambil pispot mungkin, mengambil air hangat, mengompres, atau sekedar menengok dan memastikan dia baik-baik saja.

Akhirnya aku hanya berharap, Tuhan beri aku waktu lebih lama bersamanya..

(Kartasura, 23 Oktober 2010)