Minggu, 06 Februari 2011

Gagap Inggris

Tujuan berikut adalah pertunjukan Kecak, sebuah tari yang mengkronologikan cerita Rama dan Sita. Wow, aku suka tari! Apalagi tari Bali dengan mata beloknya yang lihai melirik. Cantik! Sebelumnya aku sedikit belajar tari Bali dengan anak kecil di Desa Panglipuran. Padahal baru gerakan awal dan itupun hanya secuil goyang, tapi capeknya benar oke banget! Ngos-ngosan!

Sabtu, 05 Februari 2011

Gas Beracun

Sampai juga di penginapan. Sungguh sangat kangen merebahkan badan di atas ranjang. Aku mendapatkan teman sekamar dengan Dian, Brino, Eni Excelent, dan Ninda. Yaa, agak sedikit aneh memang karena teman-teman sekamar bukan pilihan kami melainkan panitia. Tak apa, toh kita juga tetap merasa nyaman. Panitia pun menjelaskan bahwa susunan orang tersebut hanya formalitas saja, diperkenankan bagi yang merasa kesempitan atau tidak cocok untuk pindah kamar, asalkan masih satu spesies atau sejenis kelamin.

Kami berlima pun menyulap kamar yang sempit agar dapat menampung lima bagong gede (kecuali Ninda). Dua kasur yang terpisah, dipepet menjadi satu dan koper2 diatur rapi. Dalam hitungan menit selesai sudah desain interior baru kamar 207. Anak-anak dari kamar lain, khususnya genk populer sering bertengger di kamar kami, dan di sinilah tragedi mematikan terjadi.

Jet Coaster Ala Bebek 4 Tak

Hari pertama menapakkan kaki di Pulau Dewata. Bali mameeen!!! Haha, serasa turis asing gitu. Kunjungan ke Bali ini merupakan program kuliah kerja lapangan (KKL), dan objek pertama kita adalah Desa Pegayaman yang merupakan desa Islam di Bali. Kurang lebih satu jam dari penyeberangan Gilimanuk menuju desa tersebut, dan sampailah juga di objek yang pertama.

Eh ternyata ini baru pintu gerbangnya saja, dan untuk mencapai tempat penyambutan harus menggunakan ojek karena jarak tempuh sekitar 5km. Untuk menghemat biaya, satu ojek ditumpangi dua orang, dan aku duet dengan Yuni. Bisa banyangin kan bagaimana sempitnya jok dan tersiksanya ban motor ditimpa tiga bokong super bohai?!

Minggu, 30 Januari 2011

Dunia dalam Jurnalis

Setiap saat dunia mengalami perubahan, baik fisik maupun sosial. Perubahan-perubahan tersebut tentu menyimpan tanya masyarakat, seperti mengapa, siapa, kapan, bagaimana, dan lainnya. Adanya fenomena ini, maka muncullah pemikiran manusia untuk menciptakan suatu sarana yang dapat diterima khalayak ramai untuk mempermudah jalur distribusi berita. Hal inilah yang kemudian disebut dengan jurnalis.

Sabtu, 08 Januari 2011

Bule Masuk Timnas

Multikultur adalah suatu nilai yang pasti dalam hidup. Tidak ada manusia yang sama persis, bahkan ketika mereka ditakdirkan terlahir kembar. Sama halnya dengan masyarakat, mereka diciptakan dari individu yang berbeda yang membuat mereka menjadi heterogen. Di sinilah sebuah tantangan terjadi. Perbedaan suku, ras, agama, golongan, latar belakang, kepentingan, kelas, dan lainnya ditempatkan pada satu ruang yang sama. Bagaimana keberagaman ini membaur dan terintegarasi tanpa rasa cemburu. Sebuah pertanyaan yang coba dijawab oleh zaman.

Jumat, 07 Januari 2011

Di'petakumpet'i Playstation

[1]Cublak-cublak suweng
Suwenge teng gelenter
Mambu ke tundung gudel
Pak Gempong lera-lere
Soyo ngguyu delek ake
Sir...sir pong dele gosong
Sir...sir pong dele gosong
            Batu diputar seiring lagu berjalan. Kemudian setelah sampai pada lirik “sir..sir...”, semua tangan digenggam lalu diputar-putar. Pemain yang ‘jadi’ harus menebak di tangan siapa batu tersebut berada.  Ini merupakan lirik lagu permainan tradisional yang berasal dari Pulau Jawa. Permainan ini merupakan permainan Pak Gempong menemukan anting (suweng) yang disembunyikan orang lain[2].